Malaikat kecil

Duduk disamping Pak Agus, bu agus agak uring-uringan pagi itu. Anak mereka yang baru berusia 10 bulan menangis tidak henti2nya. Padahal menunggu bus jurusan Solo-Jogja di halte bukanlah hal yang menyenangkan. Atap halte yang mulai rusak nyaris tidak berguna menahan terik matahari yang mulai menyengat. Apalagi halte tersebut menghadap kearah timur. Arah matahari menampakkan diri. 

‘Lengkap sudah’ pikir bu Agus.
Beberapa saat kemudain sebuah bus berwarna biru dengan list merah berhenti di depan mereka.
Pasangan suami istri itu naik, namun tidak menemukan satupun kursi yang kosong di dalam bus. Terpaksa mereka berdua berdiri. Pak Agus sendiri membayangkan betapa menyebalkannya berdiri sepanjang perjalanan solo jogja yang bisa memakan waktu 1 jam lebih.
Tak hanya itu, anaknya yang biasanya tenang dan ‘ndemenakke’, sepertinya tidak mau berhenti menangis.
‘Kok tidak capek to kamu le’ ujar bu Agus.


Pak Agus sendiri tahu kalau istrinya sedang sewot. Namun dia tidak merasa perlu untuk membantu menenangkan putranya. Pak agus hanya diam dan menebarkan pandangannya kesekeliling. Tampak beberapa penumpang lain memperhatikannya dengan pandangan yang kurang ramah.
‘Mungkin mereka agak terganggu’ pikir pak agus.
Bus tetap melaju.

Setengah jam kemudian, tangis anak pak Agus semakin menjadi.
‘Berisik’ teriak seseorang laki2 berambut gondrong dengan anting-anting di kursi depan.
Matanya yang merah menatap bu Agus.
‘Preman pasar klewer’ batin pak Agus.
Tidak mau berurusan dengan laki2 bertubuh kekar itu, pak agus memilih turun mencari bus lain.
Kali ini pak agus ikutan sewot. Uang bekal mereka yang tidak seberapa pasti berkurang karena harus naik bus lain. Yang menambah pak agus jengkel adalah bus lain yang ditunggu tunggu tidak kunjung datang. Setengah jam mereka terpanggang matahari karena tadi mereka turun di areal persawahan, baru mereka melihat sebuah bus menghampiri mereka.
Pak Agus melambaikan tangan dan bus tersebut berhenti.

Pasangan suami istri tersebut naik dan duduk di kursi depan yang kebetulan kosong. Bus mulai melaju perlahan dan bu Agus merasakan angin yang segar berhembus meski hanyadari kipas angin kecil dekat supir.
Anak mereka sudah tidur beberapa waktu yang lalu.
10 menit bus berlalu tiba2 bus yang mereka tumpangi memperlambat lajunya. Pak Agus melihat ada asap mengepul dari arah depan. Lalu lintas agak macet namun tetap berjalan lambat. Ia yakin di depan ada kecelakaan. Namun ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
Baru ketika bus melewati TKP, hati pak Agus bergetar.
Sebuah bus berwarna biru dengan list emas terguling dan beberapa bagian tampak hangus bekas terbakar. Ia yakin bahwa itu adalah bus yang mereka tumpangi tadi.
Di sampingnya, bu agus tampak terisak-isak. Pak Agus tahu apa yang ada di benak istrinya itu.
Andai saja mereka tetap naik bus itu pasti mereka ikut jadi korban. Andai saja anak mereka tidak menangis terus, pasti mereka telah menjadi korban.
Pak agus jadi menyesal mengapa ia tadi begitu sewot. Mengapa ia tidak bersabar. Mengapa ia tidak berkhusnudzon.
‘Astaghfirullahal’adzim’ bisik pak Agus menyesali perbustannya.
Pesan moral dari cerita motivasi diatas adalah bahwa sebuah kejadian yang menurut kita buruk, terkadang menyimpan kebaikan di dalamnya. Alloh SWT berfirman dalam Al Quran yang mulia:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5) dan diulangi lagi di ayat sesudahnya:
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di sini. Kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Terima kasih ^___^